Dampak dan Penyebab Orang Sebarkan Berita HOAX

Dampak dan Penyebab Orang Sebarkan Berita HOAX

Menurut wikipedia, Hoaks (bahasa inggrisnya HOAX) adalah berita palsu atau berita bohong adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Berita palsu ini tidak dapat diverifikasi kebenarannya secara fakta dan secara ilmiah.

Menurut Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), tema berita HOAX di Indonesia didominasi oleh politik dan agama. Hampir 50% bertema politik dan 12% bertemakan agama. Lihat grafis dibawah.

HOAX dengan kombinasi narasi dan foto ditemukan sebanyak 443 kasus sepanjang tahun 2018. Konten ini cukup menarik karena menggabungkan tulisan dan foto yang ditata secara apik, seolah kabar itu benar.

HOAX berbentuk narasi diketemukan sebanyak 340 kasus sepanjang tahun 2018. HOAX macam ini umumnya disebarkan melalui grup WA dan beberapa platform media sosial lainnya.

Dampak Kerugian HOAX

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara mengatakan bahwa berita hoax di media sosial bisa berdampak buruk bagi generasi muda. Produktivitas anak muda bisa tersita karena seringnya menggunakan media sosial. “Jangan sampai perhatian kita terhadap keluarga dan orang sekitar menjadi berkurang.

Selain itu HOAX bisa memicu perpecahan, baik itu antar individu maupun antar kelompok tertentu. HOAX juga bisa menurunkan reputasi si korban dan menguntungkan pihak tertentu. Yang paling mengerikan, HOAX mampu membuat fakta tidak lagi dipercaya. Sejarah bisa bias dan menjadi keliru akibat berita-berita HOAX yang disampaikan secara terus menerus. HOAX menjadi isu serius di Indonesia mengingat pengguna internet Indonesia 2019 melebihi separo penduduk Indonesia sendiri.

CEO BOC Indonesia, Hendra W Saputro berikan seminar Anti Hoax di PII Wilayah Bali pada 16 Juni 2019.

Penyebab dan Pemicu HOAX

1. Prioritaskan isi artikel daripada sumber berita nya.

Sebuah studi dari Universitas Stanford menunjukkan anak muda terutama remaja atau mahasiswa menilai kebenaran berita dari detail konten seperti jumlah dan besarnya foto, panjang artikel, dan lain lain. Penelitian ini dilakukan kepada 7.840 siswa dari berbagai latar belakang. Responden diminta untuk memberikan evaluasi terhadap konten berita yang ditujukan. Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa anak muda lebih memprioritaskan isi artikel daripada sumber berita. Hal ini menjadi alasan kenapa anak muda sangat rentang sekali dengan berita hoax.

Jika Anda percaya dengan paragraf diatas, berarti Anda prioritaskan isi artikel. Namun jika Anda masih belum percaya, maka akan mencari tahu sumber beritanya. Kata kunci yang digunakan untuk cari sumber berita adalah Universitas Stanford, 7.840 siswa.

Paragraf diatas saya kutip langsung dari artikel milik brilio.net. Saya harus cari tahu sumber beritanya dan menemukan di halaman website Universitas Stanford langsung. Saya juga membuka laporan hasil studi nya langsung berformat PDF. Disana angka jumlah responden adalah 7.804. Sedangkan berita dari brilio adalah 7.840. Lantas mana yang benar dan mana yang hoax kalau begitu?

2. Suka berbagi, malas membaca.

Membaca judul yang provaktif, bukannya meneruskan membaca namun buru-buru membagikannya karena rasa sosial nya tinggi. Tak lupa diimbuhi kalimat, “Indahnya berbagi.” Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

3. Terlalu cemas terancam bakal terjadi bahaya.

Menurut Laras Sekarasih, PhD, dosen Psikologi Media dari Universitas Indonesia, secara umum hoax memiliki daya untuk mengubah dan memperkuat sikap atau persepsi yang dimiliki seseorang terhadap suatu hal. Bisa jadi ketidaksetujuan terhadap kebijakan tertentu, orang tertentu, kelompok tertentu, dan sebaliknya. Informasi hoax yang bersifat negatif dapat menyebabkan kecemasan berlebih.

Contoh isu-isu perang Suriah akan terjadi di Indonesia, sistem pemerintahan Indonesia akan diubah dengan Kekalifahan, bangkitnya PKI, dll yang sifatnya negatif akan berpotensi menyebar bila jatuh kepada orang yang diliputi kecemasan berlebihan.

4. Mengikuti Tren.

Tengok tren yang berkembang di Indonesia, mulai politik hingga sosial. Beragam hashtag politik malang melintang, contoh: #2019GantiPresiden #2019TetapJokowi. Maka setiap detik netizen NKRI disuguhkan beragam berita. Yang tadinya diam akhirnya ikutan terpancing karena alasan lagi trending.

Kita tengok juga kasus sosial dengan hastag #JusticeForAudrey yang mendunia. Namun akhirnya ada hashtag susulan #AudreyJugaBersalah. Para netizen yang tadinya jadi penonton, ikutan terpancing menyebarkan. Padahal minim sumber berita.

5. Paling update, ingin pengakuan.

Bagaimanakah jika berita yang Anda sebarkan ternyata mendapatkan respon dengan disebarkan lagi oleh follower Anda? Banyak yang share dan jadi viral gara-gara Anda kan? Ada yang punya perasaan bangga dan bahagia. Itulah ingin mendapatkan pengakuan. Bisa jadi ingin diakui kehebatannya. Dipuji, cari sensasi dan ingin dikenal juga.

6. Psikopat atau dibayar oleh pihak tertentu.

Menurut dr Andri SpKJ, FAPM dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, seseorang bisa saja dengan sengaja menyebarkan berita atau informasi hoax dengan tujuan memancing keributan atau provokasi. Menurut dr Andri, mereka-mereka ini jauh dari kata kurang intelek atau ketinggalan zaman. “Malah sebagian besar biasanya pintar, dan memposting berita bohong, hoax, provokatif agar orang-orang marah dan memang ini rutinitas dia,” ucapnya lagi.

Coba kita tengok kasus hoax seperti kasusnya Ratna Sarumpaet, Saracen, WA disadap pemerintah, dll. Apa tujuan nya coba? Kemudian ada pula yang memang dibayar untuk tujuan tertentu. Penggiringan opini, pemenangan pihak tertentu.

7. Nggak ada kerjaan & pegang gadget seharian.

Inilah penyebab penyebar hoax sejati. Sudah malas verifikasi sumber berita, malas membaca, selalu berfikiran negatif dan suka cemas, terprovokasi judul yang boombastis dan salah kaprah mengikuti tren, ingin diakui dan punya jiwa psikopat. Kemudian dia pengangguran dan seharian pegang gadget. Apa yang terjadi? Ya, sebar berita sana sini. Forward informasi WA sana sini. Bahaya!

Ditulis oleh Hendra W Saputro (CEO BOC Indonesia)

BOC Banner
Boc Digital
dongkrak

Web Hosting Cpanel
Web Hosting LiteSpeed
Web Hosting CloudLinux
Web Hosting PHP
Web Hosting Linux