PERUSAHAAN WEB HOSTING MURAH, DOMAIN NAME DAN WEB DEVELOPMENT INDONESIA

Kliping Artikel: Facebook & Twitter sebagai Alat Revolusi

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Facebook dan Twitter Calon Penerima Nobel Perdamaian
Diusulkan Dapat Nobel Perdamaian

9 APRIL 2009. Sebuah tweets atau pesan di Twitter masuk dari seseorang di Moldova di tengah hari yang diwarnai berbagai bentrokan antara petugas keamanan melawan demonstran anti rezim komunis yang berkuasa itu.

“TV di Moldova Utara mati. Untunglah kita punya INTERNET YANG MAHAKUASA! Mari memaksimalkannya untuk berkomunikasi secara damai untuk mencapai kebebasan,” tulisnya.

Beberapa detik berselang, puluhan tweets bergantian masuk. Ada yang mengeluhkan bos di kantor yang melarang turun berdemonstrasi, ada pula yang menyampaikan pesan damai dan tuntutan perubahan rezim yang dianggap telah bertindak curang dalam pemilu.

Yang pasti, dari tweets demi tweets itulah dunia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di negeri termiskin di Eropa itu saat media asing kesulitan menembus. Dari spirit yang terus digelorakan secara online lewat Twitter atau Facebook itu jugalah, ribuan demonstran, kebanyakan anak-anak muda, tak pernah kehabisan energi menentang penguasa Moldova sepanjang April lalu.

“Hanya enam orang dari kami yang mengorganisasikan semuanya lewat internet. Hasilnya, 15 ribu orang sekaligus turun ke jalan,” kata Natalia Morar, jurnalis dan salah satu pentolan kelompok pemuda yang menggerakkan demonstrasi di Moldova, kepada harian Inggris The Independent.

Sebulan kemudian giliran Iran yang diguncang demonstrasi serupa kala ratusan ribu pendukung kandidat presiden yang kalah, Mir Hossein Mousavi, juga menggugat hasil pemilu. Pemerintahan Mahmoud Ahmadinejad menyikapi aksi itu dengan keras. Misili paramiliter Basij diterjunkan, korban jiwa pun berjatuhan.

Karena media asing diblokir, kelompok antipemerintah pun memanfaatkan Facebook, Twitter, dan berbagai blog tak hanya untuk menggalang dukungan, tapi juga untuk mewartakan apa yang terjadi di Negeri Mullah itu. Di saat media konvensional berkelas raksasa macam CNN dan BBC tak berdaya, Facebook dan Twitter justru menjadi jendela bagi dunia untuk menyaksikan berkecamuknya harapan, heroisme, dan horor di Iran.

Dunia pun langsung sepakat: apa yang terjadi di Moldova, Iran, dan Venezuela di awal bulan ini saat puluhan ribu massa memprotes undang-undang pendidikan baru ala Hugo Chavez adalah penanda lahirnya “Revolusi Facebook” atau “Revolusi Twitter.” Inilah fenomena yang mematahkan nubuat Mao Tse Tung yang terkenal itu: kekuasaan hanya lahir dari ujung bedil.

“Iran dan Moldova adalah contoh nyata ketika piranti jejaring sosial menjadi senjata ampuh untuk menggerakan massa dalam waktu singkat,” urai Noam Cohen, kolomnis Link by Link pada The New York Times.

Tak cuma ampuh untuk menentang penguasa, Facebook dan Twitter juga bisa berjasa besar mendudukkan seseorang di pucuk kekuasaan. Barack Obama adalah contoh paling terkenal. Kemenangannya atas John McCain di pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) pada November 2008 lalu tak lepas dari agresivitasnya memperkenalkan diri kepada anak-anak muda lewat jejaring sosial. Fakta mencatat, di antara pemilih berusia 18-29 tahun, Obama unggul 2:1 atas McCain.

Taktik Obama itu lalu ditiru di mana-mana. Misalnya, Benjamin Netanyahu pada pemilu Israel Februari lalu. Atau juga Indonesia. Latah? Mungkin, tapi itu wajar. “Karena, di era sekarang, ada kampanye dengan cara yang biasa dan ada pula kampanye lain secara online yang dinamikanya sangat berbeda,” kata Morley Winograd, penulis buku Millennial Makeover: MySpace, YouTube and the Future of American Politics.

Revolusi Facebook juga menerobos beberapa bidang lain. Di Australia, jejaring sosial yang mulai diluncurkan lima tahun silam itu resmi menjadi protokol legal di persidangan. Maret lalu, tetangga Negeri Kanguru itu, Selandia Baru, malah telah mempraktekkan aturan serupa.

Sedemikian besarnya revolusi yang dihadirkan Facebook dan Twitter, tak heran kalau Mark Pfeifle, deputi penasihat keamanan nasional pada National Security Council AS, mengusulkan jejaring sosial itu sebagai kandidat penerima Nobel Perdamaian. “Twitter adalah megafon dari suatu tuntutan perubahan,” katanya. (hep/ttg)

———————————————————————————————

Internet, Senjata Ampuh Kelompok Madani Melawan Kontrol Ketat Pemerintah Tiongkok
Lebih Ditoleransi, Menyebar Cepat bak Api Bakar Padang Rumput

Aksi jalanan boleh dibungkam di negeri yang dipimpin Presiden Hu Jintao. Namun, masih ada gerakan pembentukan opini lewat dunia maya yang terbukti cukup manjur untuk melahirkan Tiongkok modern.

DENG YUJIAO, seorang terapis kuku (pedicurist) di Provinsi Hubei, dinyatakan bersalah dan ditahan karena menikam seorang pejabat lokal hingga tewas pada 10 Mei lalu. Dengan bukti meyakinkan, penyidik meminta dia segera dieksekusi.

Namun, dua pengacara asal Beijing, Xia Lin dan Xian An, tergerak untuk membantu Deng dalam menjalani proses hukum tersebut. Argumen mereka kuat. Dua pengacara ternama itu menyatakan, Deng terpaksa menikam pejabat tersebut untuk menyelamatkan jiwa dan kehormatannya. Perempuan 21 tahun itu akan diperkosa korban.

Setelah mengikuti persidangan pada 16 Juni lalu dan berkat kegetolan dua pengacaranya, Deng dibebaskan. Pengadilan tetap menyatakan dia bersalah karena melakukan penyerangan, namun kemudian dibebaskan dengan alasan kelainan mental.

Kedua pengacara yang berafiliasi dengan kantor pengacara Huayi -berdiri sejak 11 tahun silam- di Beijing adalah sebagian di antara sedikit pengacara yang peduli terhadap kepentingan rakyat RRT. Meski jumlah mereka terbatas, perkembangannya cukup baik.

Bersama LSM mereka bergerak menjadi bagian dari bangunan masyarakat madani baru yang sedang menggeliat di tengah konservatisme hukum Tiongkok. Para pengacara itu bahkan siap tidak dibayar dalam membela kasus-kasus yang mereka anggap terkait erat dengan kepentingan publik.

Pengacara-pengacara tersebut berbeda jika dibandingkan dengan kelompok oposisi pemerintahan komunis. Mereka menerima sistem hukum nasional yang sudah terbentuk dengan baku. Namun, mereka tetap yakin sistem itu dapat diperbaiki dengan mengimplementasikan hukum dan regulasi secara proporsional serta meningkatkan kualitas kemerdekaan media.

Kelompok pergerakan baru tersebut ”melawan” pemerintah menggunakan hukum dan peraturan. Bukan melalui protes jalanan atau gerakan pemberontakan sipil konservatif. Alat perjuangan yang paling penting bagi mereka adalah internet. Yakni bentuk komunikasi massa yang hampir tidak bisa dikontrol oleh pemerintah.

Mereka yakin berbicara kepada publik mengenai gagasan-gagasan revolusioner melalui blog dan website adalah senjata paling efektif. Tak seperti beropini melalui media pemerintah yang diatur dengan ketat.

Zhou Xiaozheng, profesor sosiologi Universitas Renmin mengatakan kantor hukum yang bergerak dalam advokasi rakyat, posisinya amat lemah. ”Mereka berhadapan dengan lawan yang sangat berkuasa, mempunyai uang dan kekuasaan. Mereka membuat marah para pejabat lokal dan nasional yang korup sehingga dalam menjalani tugasnya, mereka kerap berhadapan dengan risiko. Tapi, saya berharap mereka bisa menyebar seperti api membakar padang rumput yang dibantu angin,” paparnya.

Risiko itu dialami Xu Zhiyong, salah seorang pengacara rakyat ternama. Dia ditangkap atas tuduhan penggelapan pajak.

Meski sedikit alergi terhadap pergerakan advokasi rakyat tersebut, pemerintah Tiongkok toh lebih memberikan kelonggaran kepada mereka daripada orang-orang yang akan mendirikan partai politik. Selasa lalu (8/9), pengadilan di Changsa menjatuhkan hukuman 13 tahun penjara kepada mantan pekerja pabrik berusia 57 tahun itu atas dakwaan subversi terhadap kekuasaan negara. Dakwaan tersebut diberikan setelah dia mencoba mengatur sebuah pertemuan Partai Demokrasi China yang telah lama dibubarkan pemerintah. (cak/ami).

Sumber : Harian Jawa Pos edisi 13 September 2009.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
This entry was posted on Sunday, September 13th, 2009 at 11:12 am and is filed under Informasi IT, Kisah Sukses. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
dongkrak
BOC Banner

One response to “Kliping Artikel: Facebook & Twitter sebagai Alat Revolusi”

  1. Saswin Usman says:

    Just thanks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tentang BOC Indonesia
Sejak tahun 2003 sebagai perusahaan penyedia domain name ekstensi internasional dan Indonesia, serta penyedia web hosting datacenter Indonesia, Singapura dan USA. Layanan lain adalah website developer dan konsultan internet marketing.

Workshop Digital Marketing - DONGKRAK

Proposal Domain name dan web hosting
@idboc